OLPC – Notebook murah buat anak-anak

Mungkin ada yang pernah mendengar notebook 100 USD, suatu proyek MIT dengan motivator utama Nicholas Negroponte. Notebook ini dikenal dengan nama OLPC (One Laptop Per Children) [http://www.laptop.org]. Notebook ini didisain dan hanya akan disebarkan di negara berkembang. Sayangnya Indonesia belum menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dengan program ini. Negara berkembang yang menyatakan akan bergabung adalah Brazil, Libya, Thailand. Seingat saya negara Afrika seperti Nigeria juga turut serta. Atau mungkin harga 100 USD terlalu murah untuk ukuran Indonesia. Maklum di Indonesia, suatu negara yang penuh keajaiban ini, biasanya yang mahal yang dikejar orang, mobil mahal, baju mahal, sekolah mahal. Kualitas urusan belakangan yang penting mahal.
Notebook OLPC ini perangkat kerasnya didisain khusus untuk mengikuti kondisi anak-anak di negara dunia berkembang. Termasuk badannya cukup kuat, tanpa hard disk, sehingga hemat enerji, dan awet. Juga untuk keterbatasan listrik, maka baterai notebook ini dapat dicharge dengan cara diengkol atau digenjot. Untuk konektivitas, notebook ini telah memiliki WLAN, serta mendukung koneksi wireless mesh. Jadi bisa memanfaatkan keberadaan jaringan secara efisien. Untuk fungsi multimedia, notebook ini telah dilengkapi dengan microphone dan web cam. Jadi bisa dikatakan fasilitas perangkat kerasnya cukup lengkap. Notebook ini akan diproduksi oleh perusahan Taiwan. Memang ada issue bahwa notebook ini nantinya akan dirilis ke pasar komersial tetapi dengan harga yang lebih mahal.

OLPC

Di samping perangkat keras yang khusus, maka untuk perangkat lunak juga didisain khusus untuk anak-anak. Sebagai basis digunakan sistem operasi GNU/Linux, distro Fedora. Tetapi untuk GUI-nya didisain suatu baru yang disebut SUGAR [http://wiki.laptop.org/go/Sugar]. GUI ini memang didisain khusus untuk anak-anak di negara berkembang. Dengan aplikasi dan ikon yang menarik. Dari GUI ini si anak-anak dapat mudah membrowse, menulis dokumen (aplikasi yang digunakan berbasiskan AbiWord [http://www.abisource.com]. Juga ada aplikasi untuk memanfaatkan kamera, sehingga anak-anak bisa saling melakukan video conference. Ada juga aplikasi untuk bermain musik. Cukup menarik bagi anak-anak. Apalagi disertakan Squeak [http://www.squeak.org], suatu platform pemrograman karya Alan Kay (pembuat Smalltalk) yang sangat cocok buat mengajari pemrograman pada anak-anak. Dengan eToys anak-anak dapat menulis program simulasi secara mudah.

OLPC

Di pameran CeBIT 2007, saya mendapat kesempatan untuk menyentuh prototype. Cukup menggoda memang OLPC ini. Dengan warna yang cukup menor dan terbuat dari materi yang cukup kuat. Tapi sayang masih lama untuk bisa diperoleh. Untuk mencoba lebih mesra lagi, untungnya telah disediakan ISO image di [http://olpc.download.redhat.com/olpc/streams/sdk/build1/livecd/olpc-redhat-stream-sdk-livecd.iso]. Cukup diunduh dan dibakar ke CDROM. Masukkan ke komputer dan boot, maka akan mendapatkan lingkungan GUI Sugar. Tentu saja tidak semua kemampuan dapat dimanfaatkan. Tetapi minimal bisa melihat bagaimana sistem tersebut bekerja.

Setelah mencoba-coba Sugar tentu saja Madhava juga ikut serta mencoba-coba bermain dengan si SUGAR ini. Saya merasa GUI ini memang didisain untuk anak-anak. Bukan GUI desktop umum yang dikustomisasi. Tapi memang masih ada beberapa keganjilan (termasuk icon, dan pendekatan aplikasi) terutama bila diterapkan untuk anak-anak di Indonesia. Di sinilah sebetulnya kesempatan para pengembang, akademisi Indonesia untuk mencoba mendisain, mengembangkan sistem GUI yang cocok untuk anak-anak. Juga kesempatan penambahan content mater pembeajaran. Ketersediaan source code SUGAR dan OLPC (karena berbasiskan GNU/Linux) akan sangat membantu karena dengan mudah dapat melakukan pengubahan.

Di sinilah gabungan psikologi anak, human computer interaction, computer graphics, jaringan komputer, dan bahkan bahasa dapat menjadi suatu topik penelitian yang menarik dan memiliki hasil nyata dan dapat diproduksi. Apalagi sekarang tidak saja OLPC ini saja yang merupakan platform komputer murah. INTEL juga telah meluncurkan notebook yang dirancang untuk anak sekolah, yang diberi nama Classmate [http://www.intel.com/intel/worldahead/classmatepc/]. Notebook untuk siswa ini juga telah dilengkapi dengan WLAN, serta menggunakan listrik yang irit. Memang kedua jenis notebook anak-anak ini memiliki ukuran LCD yang lebih kecil dari notebook biasa. Classmate ini memiliki LCD berukuran 800×480.

Notebook ini awalnya hanya akan menjalankan Windows XP khusus (versi sunatan dengan fitur terbatas). Tetapi menurut berita terakhir distro Linux, Mandriva telah dapat diinstal dan akan disertakan bila kustomer memintanya. Menurut desas-desus, notebook Classmate ini seharga 250-300 USD, dan akan segera masuk ke Indonesia juga pada bulan-bulan mendatang.

Intel Classmate

Tentu saja sebagai lembaga pendidikan, akademisi di negara berkembang. Kita sebaiknya aktif turut mengembangkan dan menyesuaikan teknologi yang akan digunakan. Tidak sekedar meng-import barang jadi dan menggunakannya. Open Source seperti pada SUGAR memungkinkan kita dari negara berkembang secara aktif, mencari tahu, meneliti kebutuhan yang ada, membuat disain, dan mengimplementasi atau melakukan penyesuaian dari sistem yang ada.

Jangan sampai setelah notebook murah untuk anak masuk ke sekolah-sekolah. Kita kembali hanya menjadi penonton dan konsumen kembali, mirip seperti dengan menyerbunya produk-produk Handphone, dan Indonesia cukup puas sebagai konsumen nomor 1 di dunia, dan sedikit kecipratan usaha developmentnya.

Mari kita mulai penelitian tentang kebutuhan anak-anak Indonesia untuk komputer dan perangkat lunaknya. Jangan begitu saja menelan mentah-mentah bahwa Windows XP atau MS Office itu cocok untuk anak-anak. Mungkin mereka memiliki kebutuhan yang lain, yang selama ini hanya dicekoki dari guru di sekolahnya saja. Sebaiknya studi tersebut bersifat interdisplin dengan melakukan studi ethnography, psikologi, software design untuk melakukan hal ini.

Anak-anak adalah masa depan bangsa, juga untuk bidang TI.

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.